Tokyo - Berendam di air panas saat cuaca dingin memang nyaman. Berdasar studi terbaru, kebiasaan ini bisa berujung fatal. Gagal jantung mengintai pemilik kebiasaan ini.
Studi tim peneliti yang dipimpim Chika Nishiyama dari Kyoto Prefectural University of Medicine School of Nursing ini mengungkapkan, kasus gagal jantung saat mandi meningkat 10 kali lipat di musim dingin dibandingkan musim panas.
Fakta ini penting bagi masyarakat Jepang, mengingat sebagian besar penduduknya senang mandi air panas selama berjam-jam guna menenangkan diri setelah sibuk beraktifitas.
Di Jepang, banyak orang berlama-lama mandi air panas karena rumah tradisional Jepang tak tertutup dengan baik layaknya rumah di Barat. "Selain itu, alat pemanas yang ada jarang digunakan," papar Nishiyama. Seperti dikutip Straits Times.
Nishiyama dan tim menggunakan data 11.000 kasus gagal jantung 2005-2007 di prefektur Osaka barat sebagai dasar studi. Berdasarkan data itu, 22% kasus terjadi dalam keadaan tidur dan 9% saat sedang mandi. Sekitar 3% mengalami gagal jantung saat beraktivitas kerja dan 0,5% saat sedang berolahraga.Diketahui, sebanyak 54 kasus gagal jantung pada 10 juta orang terjadi saat sedang berendam. Kemudian, 10 kasus dari 10 juta orang terjadi saat berolahraga.
Tampilkan postingan dengan label Jantung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jantung. Tampilkan semua postingan
Minggu, 12 Juni 2011
Sabtu, 11 Juni 2011
Jantung Buatan Untuk Manusia Seharga 2M
Lahirnya penemuan baru di dunia teknologi bisaa bermanfaat sekali bagi kehidupan manusia, seperti halnya jantung buatan ini! Kami yakin manusia akan membuatt sesuatu yang tidak pernah kita bayangkann sebelumnyaa, seiring dengan kemajuan teknologi.
Para peneliti di Perancis telah berhasil membuat sebuah
jantung buatan dari bahan plastik yang dapat berdetak layaknya sebuah
jantung asli.�Jantung Plastik� ini menggunakan sensor elektronik untuk mengontrol detak jantung dan juga aliran darah yang mengalir ke dalamnya.
Walaupun belum pernah diuji coba di tubuh manusia, jantung buatan ini
telah sukses diuji coba di seekor binatang mamalia besar.
Tentu saja, jantung buatan ini akan membuka peluang besarr bagi manusia yang memang mempunyai jantung yang bermasalah tetapi di lain sisi, harganyaa yang mencapai US$ 192.140 (sekitar 2 milyar Rupiah) akan memberikan penyakit jantung yang baru.
Para peneliti di Perancis telah berhasil membuat sebuah
jantung buatan dari bahan plastik yang dapat berdetak layaknya sebuah
jantung asli.�Jantung Plastik� ini menggunakan sensor elektronik untuk mengontrol detak jantung dan juga aliran darah yang mengalir ke dalamnya.
Walaupun belum pernah diuji coba di tubuh manusia, jantung buatan ini
telah sukses diuji coba di seekor binatang mamalia besar.
Tentu saja, jantung buatan ini akan membuka peluang besarr bagi manusia yang memang mempunyai jantung yang bermasalah tetapi di lain sisi, harganyaa yang mencapai US$ 192.140 (sekitar 2 milyar Rupiah) akan memberikan penyakit jantung yang baru.
Jumat, 20 Mei 2011
Aktivitas Sehari-hari yang Memicu Serangan Jantung
Menurut sebuah studi terbaru, hampir semua aktivitas sehari-hari dapat memicu serangan jantung bagi yang punya risiko. Mulai dari minum kopi, berhubungan seks atau sekedar merasa sedih. Manakah yang paling banyak memicu serangan jantung?
Penelitian para ahli dari Hasselt University di Diepenbeek, Belgia ini mengungkap serangan jantung paling banyak dipicu polusi udara yakni 7,4 persen. Tingkat polusi udara di Eropa memang tinggi, sehingga dampaknya bisa dirasakan semua orang termasuk penderita sakit jantung.
Yang mengejutkan adalah, hubungan seks juga masuk dalam daftar pemicu serangan jantung meski kontribusinya sangat kecil yakni hanya 2,2 persen. Ganja dan kokain yang tergolong obat terlarang malah hanya memicu 1 persen serangan jantung.
Selengkapnya, berikut ini adalah berbagai pemicu serangan jantung berdasarkan penelitian tersebut.
| Pemicu | Persentase (%) |
| Polusi udara | 7,4 |
| Aktivitas fisik yang berlebihan | 6,2 |
| Minum kopi | 5 |
| Minum minuman beralkohol | 5 |
| Emosi negatif (sedih, dll) | 4 |
| Marah | 3 |
| Makan berlebihan | 2,7 |
| Emosi positif (gembira, dll) | 2,4 |
| Berhubungan seks | 2,2 |
| Konsumsi ganja/kokain | 1 |
Menurut Prof Tim S Nawrot yang memimpin penelitian tersebut, angka-angka di atas tidak menunjukkan besarnya peningkatan risiko sesungguhnya. Misalnya peningkatan risikonya serangan jantung akibat penggunaan kokain sebenarnya lebih besar dibandingkan polusi udara, namun karena pengguna kokain tidak terlalu banyak dibandingkan orang yang terkena polusi maka hanya sedikit yang mengalami serangan jantung karena kokain.
"Peningkatan risiko sekecil apapun, misalnya karena polusi udara, bisa berdampak besar jika dampaknya sangat luas di suatu populasi," ungkap Prof Nawrot seperti dikutip HealthDay, Kamis (24/2/2011).
Tingginya kasus serangan jantung akibat polusi udara menunjukkan betapa sangat memprihatinkannya tingkat pencemaran saat ini. Salah satu solusinya adalah memberlakukan larangan merokok di tempat umum, yang diklaim bisa menekan jumlah kasus serangan jantung hingga 17 persen.
Serangan Jantung di Pagi Hari Lebih Mematikan
Risiko kematian selalu tinggi ketika terjadi serangan jantung. Namun jika terjadi pada pagi hari, serangan jantung 20 persen lebih berisiko memicu kematian dibandingkan serangan jantung yang terjadi di waktu-waktu lain sepanjang hari.
Berbagai penelitian sebelumnya memang menunjukkan bahwa serangan jantung lebih sering terjadi pada pagi hari. Meski begitu, belum ada yang membandingkan risiko kematian akibat serangan jantung yang terjadi pada waktu-waktu tertentu termasuk di pagi hari.
Baru-baru ini, para peneliti dari National Center of Cardiovascular Disease di Spanyol berhasil mengaitkan risiko kematian dengan waktu terjadinya serangan jantung. Serangan jantung yang terjadi antara pukul 6 pagi hingga tengah hari paling mematikan dibandingkan pada waktu lainnya.
Peningkatan risiko kematian pada serangan jantung yang terjadi di pagi hari cukup tinggi, yakni seitar 20 persen. Diduga, pemicunya adalah sistem hormonal dan metabolisme yang mengalami peningkatan aktivitas pada pagi hari setelah bangun tidur.
Peningkatan tekanan darah di pagi hari juga diyakini juga ikut mempengaruhi meski pendapat ini masih kontroversial. Sebab penelitian terbaru di Harvard Medical School menunjukkan, jam biologis manusia justru membuat tekanan darah turun ke titik terendah pada pagi hari.
Penelitian tersebut melibatkan 811 pasien serangan jantung yang dirawat di berbagai rumah sakit di kota Madrid, antara tahun 2003-2009. Dikutip dari Dailymail, Jumat (29/4/2011), sebagian besar partisipan mengalami infark myokardiak, yakni serangan jantung yang dipicu penyumbatan pembuluh darah yang berkepanjangan.
Sesuai dengan penelitian-penelitian terdahulu, sebagian besar partisipan yakni 269 orang mengalami serangan jantung antara pukul 6 pagi hingga tengah hari. Sisanya, 240 orang mengalaminya antara tengah hari hingga pukul 6 sore, 161 antara pukul 6 sore hingga tengah malam dan 141 antara tengah malam hingga pukul 6 pagi.
Yang Baik Buat Jantung, Baik Juga untuk Otak
Otak merupakan bagian yang penting dalam tubuh manusia. Berbagai kegiatan sederhana dapat menjaga otak tetap sehat, salah satunya kegiatan yang juga menjaga jantung. Apa yang baik untuk jantung juga baik untuk otak.
Hal-hal yang dapat menyebabkan penyakit jantung juga dapat mempengaruhi kerja dan kesehatan otak. Misalnya, plak dan kerusakan arteri yang dapat menyebabkan serangan jantung, juga dapat menyebabkan stroke.
Oleh karena itu, tindakan yang baik untuk jantung seperti mengontrol kolesterol dan tekanan darah, berolahraga, makan makanan sehat, yang bermanfaat untuk jantung tentu juga akan baik untuk otak.
"Gen dan kondisi tertentu dapat berperan dalam kehilangan memori, tumor otak, stroke dan gangguan otak lainnya," jelas Dr Keith L. Black, Ketua Departemen Bedah Saraf di Cedars-Sinai Medical Center di Los Angeles dan Direktur Institute Maxine Dunitz Neurosurgical, seperti dilansir Healthday, Senin (9/5/2011).
Tapi menurut Dr Black, kesehatan otak tidak sepenuhnya diluar kendali. Selain melakukan kegiatan yang dapat menyehatkan jantung, ada beberapa cara lain yang dapat mengurangi risiko penyakit dan cedera otak, antara lain:
1. Mengenakan helm
Mengenakan helm atau pelindung kepala saat berkendara (naik sepeda motor atau sepeda) atau saat olahraga tertentu dapat mencegah terjadinya kejadian atau kecelakaan yang tidak diinginkan, khususnya untuk bagian kepala seperti gegar otak bahkan cedera kepala serius. Hal ini tidak hanya berlaku untuk orang dewasa, tetapi juga anak-anak.
2. Latihan untuk melatih otak
Otak bisa dilatih dengan melakukan teka-teki dan permainan atau aktivitas seperti membaca, belajar bahasa atau merajut. Penelitian menunjukkan latihan otak tersebut dapat membantu mencegah beberapa penurunan memori dan mencegah terjadinya dementia atau pikun.
3. Gaya hidup sehat
Makan makanan bergizi yang meliputi buah-buahan, sayuran, biji-bijian dan protein berkualitas tinggi juga dapat membuat otak tetap tajam dan sehat.
Selain itu, hindari alkohol, berhenti merokok, tidur yang cukup serta kontrol stres melalui relaksasi, meditasi atau olaharag juga dapat menjaga otak berfungsi dengan baik.
4. Pelajari gejala stroke dan segera cari pertolongan
Jangan terkecoh dengan anggapan bahwa stroke tak bisa menyerang orang di usia muda. 25 persen dari semua stroke terjadi pada orang muda yang kurang dari 65 tahun dan bahkan orang dewasa muda dan anak-anak dapat menderita stroke. Cara pengobatan yang cepat dapat membatasi penurunan fungsi otak yang permanen.
5. Gunakan headset atau speaker saat menggunakan ponsel
Sementara penelitian awal tidak menemukan bukti bahwa gelombang frekuensi radio dari ponsel meningkatkan risiko tumor otak, tapi Dr Black mengatakan pengaruhnya bisa menjadi bukti selama puluhan tahun. Maka cara terbaik untuk mencegahnya adalah berhati-hati dan sebaiknya gunakan headset atau speaker saat Anda berbicara via ponsel.
Ukuran Pinggang Lebih Akurat Prediksi Penyakit Jantung
Ahli kesehatan telah sepakat bahwa obesitas (kegemukan) dapat meningkatkan risiko penyakit jantung. Tetapi ukuran pinggang ternyata lebih akurat untuk memprediksi kematian jantung ketimbang berat badan.
Beberapa studi telah menemukan bahwa indeks massa tubuh (BMI) berhubungan dengan risiko kematian akibat penyakit jantung dan penyakit kronis lainnya.
Namun menurut analisis baru dalam Journal of American College of Cardiology, ukuran pinggang menyediakan cara yang jauh lebih akurat untuk memprediksi kemungkinan pasien jantung meninggal pada usia dini karena serangan jantung atau penyebab lainnya.
Peneliti menemukan bahwa jantung pasien dengan rasio lingkar pinggang-panggul besar atau ukuran pinggang besar, lebih besar dari 35 inci (89 cm) untuk wanita atau 40 inci (101,6 cm) untuk laki-laki, 70 persen lebih mungkin meninggal dibandingkan pasien dengan pinggang yang lebih kecil.
Dan tentunya kombinasi pinggang besar dan BMI tinggi menaikkan risiko kematian bahkan menjadi lebih besar lagi.
"Yang paling penting adalah distribusi lemak, lebih dari apa pun," kata peneliti utama, Fransisco Lopez-Jimenez, MD, seorang ahli jantung di Mayo Clinic, di Rochester, Minnesota, seperti dilansir CNN, Selasa (3/5/2011).
Menurut Jean-Pierre Despres, Ph.D., direktur penelitian di Quebec Heart and Lung Institute di Laval University, di Quebec City, studi baru ini memberikan bukti lebih banyak tentang kekurangan BMI dalam menilai risiko jantung.
"Jika Anda mengukur BMI, Anda tidak menilai bentuk tubuh dan Anda tidak menilai distribusi lemak tubuh. Saya tidak mengatakan bahwa BMI tidak berguna, hanya saja kita perlu mengetahui bahwa BMI adalah total kolesterol dari lemak. Kita tahu bahwa ada kolesterol baik dan buruk, juga ada lemak baik dan buruk," kata Despres.
BMI juga tidak membedakan antara lemak dan otot, tambah Despres. Ia menjelaskan, jantung pasien yang menjalani gaya hidup mungkin akan mengalami penurunan BMI karena mereka kehilangan massa otot, sementara pasien penyakit jantung yang menjadi lebih aktif sebenarnya bisa menambah berat badan dan meningkatkan BMI karena mereka menambahkan massa otot.
Mengapa ukuran pinggang atau lemak perut lebih berbahaya?
Lemak di perut cenderung menjadi tanda lemak visceral atau lemak yang mengumpulkan sekitar organ di perut. Lemak ini dapat mempromosikan resistensi insulin dan kolesterol tidak sehat, dan juga dapat meningkatkan peradangan.
"Genetika memainkan peranan 'sangat kuat' untuk menentukan apakah berat badan menumpuk di sekitar pinggang," ujar Despres.
Langganan:
Postingan (Atom)