Tampilkan postingan dengan label Gigi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gigi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 Juni 2011

Sering Ciuman Bikin Gigi Jadi Berlubang

Banyak cara mengungkapkan rasa cinta terhadap pasangan ialah berciuman. Bahkan hanya dari sekadar berciuman, mampu membuat Miss V terasa "basah" karena permainan silat lidah saat berciuman atau French kiss yang lebih intim. Namun, benarkah berciuman dapat menyebabkan gigi berlubang?



"Cukup aneh memang, tapi Ya! Sebuah studi menunjukkan bahwa bakteri yang terdapat pada gigi, mampu ditularkan melalui air liur saat berciuman," Clifford Williams, seorang dokter gigi di New York, seperti dilansir Cosmopolitan.



"Akan cukup bermasalah lagi jika pasangan beberapa kali mengalami gigi berlubang dalam setahun," tambah Dr Clifford.

Lantas, haruskah pasangan suami istri berhenti saling berciuman?

"Minta pasangan untuk menggosok gigi dia terlebih dulu sebelum saling berciuman. Jika dia menolak, sarankan dia mengunyah permen karet tanpa gula, yang dapat menghalau pergi bakteri buruk. Jika dia masih menolak juga, lebih baik perhatikan gigi Anda sendiri dengan rajin menggosok gigi dan menggunakan dental floss untuk mencegah bakteri menggrogoti gigi saat Anda tertidur," saran Dr Clifford. dikutip dari okezone.

Senin, 23 Mei 2011

Jangan Taruh Sikat Gigi Dekat Toilet

sikat gigi

Coba perhatikan kamar mandi Anda. Apakah Anda menaruh tempat sikat gigi terlalu dekat dengan toilet? Kalau ya segera pindahkan ke tempat yang agak jauh karena menaruh sikat gigi terlalu dekat pembuangan toilet berisiko terkontaminasi kuman.

Jutaan orang mempertaruhkan kesehatannya dengan meletakkan sikat giginya begitu dekat dengan toilet. Padahal salah satu tempat yang mengandung berbagai macam kuman adalah toilet tempat buang air kecil atau air besar.

Peneliti dari Lloydspharmacy menuturkan ketika toilet disiram, maka bakteri bisa menyebar ke udara selama 2 jam sebelum jatuh ke lantai. Ada kemungkinan kuman tersebut menempel pada permukaan sikat gigi sehingga bisa masuk ke dalam tubuh saat orang menggunakannya. Karena itu sikat gigi yang diletakkan di dekat toilet sangat rentan terkontaminasi bakteri.

Kuman bisa terbang sejauh 1 meter dari lubang toilet setelah disiram, apalagi jika permukaan sikat gigi tidak tertutup atau dilindungi dengan baik.

Penelitian dari Manchester University mengungkapkan bahwa lebih dari 100 juta bakteri dapat hidup dalam satu sikat gigi, seperti E.coli, Staphylococci, Streptoccocus dan jamur Candida.

"Salah satu gejala yang bisa muncul adalah perut terasa mulas setelah menggosok gigi, ada kemungkinana bakteri hadir di permukaan siakt gigi tersebut," ujar Louise Baglole, ahli kesehatan mulut dari Lloydspharmacy, seperti dikutip dari Telegraph, Rabu (3/3/2010).

Usahakan untuk selalu menyimpan sikat gigi ditempat yang bersih dan kering, sedangkan udara di kamar mandi sangat lembab sehingga kondisinya baik untuk tempat bersarang mikroorganisme. Akan lebih baik jika bisa menaruh sikat gigi di luar kamar mandi.

Selain itu sebaiknya menghilangkan air yang ada di sikat dengan cara mengibas-ngibaskan sikat sebelum melindunginya dengan penutup sikat gigi. Jangan merendamnya dengan larutan pembersih mulut karena tidak akan efektif untuk menghilangkan segala mikroorganisme.

Sikat gigi merupakan barang yang digunakan setiap hari oleh semua orang di seluruh dunia, karena itu kebersihannya harus dijaga agar tidak menimbulkan penyakit dan menjadi sarang berkembang biaknya kuman-kuman

Gigi Sehat dengan 9 Langkah

gigi

Orang kadang baru sadar merawat giginya setelah sakit gigi. Jangan tunggu sampai sakit gigi menyiksa, karena punya gigi sehat ternyata cukup dengan 9 langkah mudah.

Siapa bilang memiliki gigi yang kuat dan indah butuh biaya yang mahal?

Seperti dikutip dari Geniusbeauty, Kamis (13/5/2010), ada 9 langkah mudah dan tidak perlu biaya mahal untuk memiliki gigi yang kuat dan indah, yaitu:

  1. Sebaiknya tidak hanya menyikat bagian gigi saja, tapi juga mencakup lidah dan pipi. Karena banyak juga kuman-kuman yang berkumpul di daerah tersebut.

  2. Mengganti sikat gigi dalam sebulan.

  3. Mengganti pasta gigi (odol) secara teratur, karena tubuh yang sudah terbiasa dengan bahan aktif tertentu akan berhenti bereaksi dari waktu ke waktu.

  4. Membiasakan diri untuk menyikat gigi sebelum sarapan pagi dan sebelum tidur di malam hari.

  5. Melakukan kumur tenggorokan secara menyeluruh setelah makan, terutama jika mengonsumsi makanan yang manis atau asam. Dalam hal ini tak perlu harus menggunakan cairan kumur, tapi bisa juga menggunakan air.

  6. Menggunakan benang gigi untuk menghilangkan sisa-sisa makanan, dan sebaiknya tidak menggunakan tusuk gigi karena dapat melukai mukosa mulut.

  7. Mengunyah permen karet setelah makan dapat membantu menyerap racun dan menghilangkan akumulasi plak lunak. Tapi pastikan untuk tidak mengunyahnya lebih dari 15 menit.

  8. Jika diperlukan bisa berkumur dengan cairan antibakteri untuk menghilangkan bakteri secara keseluruhan.

  9. Menggunakan irrigator oral untuk membantu membersihkan ruang antara dentogingival lebih efektif. Selain itu intensitas semprotan air pada gusi dapat meningkatkan aliran darah.


Selain sembilan langkah di atas yang bisa membantu seseorang memiliki gigi kuat dan indah, ada juga hal lain yang harus dilakukan yaitu:

1. Memilih makanan yang tepat untuk gigi sehat
Gigi membutuhkan banyak kalsium yang bisa membantu membuat enamel gigi semakin kuat. Karenanya konsumsi makanan yang mengandung kalsium seperti produk susu, ikan, kacang-kacangan, bit dan bayam. Selain itu air yang digunakan untuk minum dan masak juga memiliki pengaruh tersendiri. Hal lain yang harus diperhatikan adalah melatih gigi agar kuat dengan mengonsumsi makanan padat berupa sayuran dan buah secara teratur seperti menggigit wortel dan apel.

2. Menghindari minuman yang tidak sehat

Selama ini mungkin orang beranggapan bahwa teh, kopi atau jus tidak baik untuk gigi, padahal sebenarnya minuman ini tidak merusak enamel gigi. Tapi minuman soda lah yang paling berbahaya untuk gigi. Minuman ini mengandung asam orthophosphoric yang dapat menggerogoti enamel gigi.

3. Rajin merawat gigi
Gigi yang sehat sekalipun tetap membutuhkan perawatan secara teratur dari waktu ke waktu. Hal ini berguna untuk membersihkan gigi, menghilangkan plak yang menempel dan memberikan perlindungan khusus terhadap gigi. Tapi perawatan ini tidak termasuk memutihkan gigi dengan produk hidrogen peroksida, karena bisa merusak dan melemahkan gigi.

Amankah Memutihkan Gigi?

gigi putih

Gigi putih cemerlang menjadi idaman yang membuat seseorang terlihat menarik saat tersenyum sehingga bisa meningkatkan kepercayaan diri. Segala cara dilakukan untuk bikin gigi putih termasuk melakukan pemutihan (bleaching) gigi.

Seberapa aman proses bleaching itu?

"Proses memutihkan gigi atau bleaching bisa dibilang aman tapi bisa juga dibilang tidak aman, ini tergantung dari bahan dan dosis yang digunakan. Jika menggunakan peroksida umumnya bisa menyebabkan gigi menjadi rusak," ujar drg Armasastra Bahar, PhD, saat dihubungi detikHealth, Rabu (24/3/2010).

Bleaching gigi biasanya dilakukan untuk menghilangkan warna gigi yang kuning atau kusam akibat sisa-sisa makanan seperti kopi, coklat, rokok, obat atau ada juga yang warnanya berubah karena terjadi perubahan struktur di dalam gigi.

drg Armasastra menuturkan bleaching gigi bisa saja dilakukan jika warnanya memang sudah sangat mengganggu dan dapat menurunkan kepercayaan diri seseorang.

Tapi menurutnya gigi yang berwarna gading lebih baik dibandingkan dengan gigi putih, karena gigi yang terlalu putih menunjukkan struktur yang kurang kuat.

"Jika warna gigi berubah akibat sisa-sisa makanan maka bisa dihilangkan dengan perawatan ke dokter gigi dan tidak perlu di bleaching, tapi jika perubahan akibat intrinsik atau faktor dari dalam struktur gigi tersebut maka kondisi ini tidak bisa dihilangkan," ujar dokter yang juga anggota Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI).

drg Armasastra menjelaskan selama ini ada dua cara yang dilakukan untuk memutihkan gigi (bleaching) yaitu:

1. Membuat lapisan tipis pada gigi dengan menggunakan bahan tertentu.
Tapi ini biasanya hanya bertahan beberapa bulan saja lalu warna gigi akan kembali seperti semula dan proses ini membuat seseorang harus mengulanginya lagi.

2. Teknik bleaching dengan menggunakan bahan yang dapat mengubah warna gigi dari dalam atau mengubah struktur giginya, dan proses ini bisa berbahaya karena dapat mempengaruhi struktur gigi secara keseluruhan.

"Menurut saya gigi yang bersih dan sehat jauh lebih bagus dibandingkan dengan gigi yang putih, jadi sebaiknya rawatlah gigi dengan menggosok gigi secara teratur dan benar serta menggunakan sikat dan pasta gigi yang tepat," ujar dokter dari FKG UI ini.

Selain itu hindari menyikat gigi langsung setelah makan, karena saat habis makan kadar pH dalam mulut berubah dan menyikat gigi bisa menyebabkan lapisan email gigi menipis.

Sebaiknya tunggulah selama 30 menit setelah makan, baru menyikat gigi. Dan juga sebaiknya gunakan pasta gigi yang mengandng flouride karena bisa memperkuat struktur gigi dan mencegah gigi menjadi bolong.

Kebiasaan yang Merusak Gigi

gigi rusak dalam

Tanpa disadari, beberapa kebiasaan yang sering dilakukan ternyata bisa menyebabkan gigi cepat rusak. Tidak hanya menyebabkan sakit pada gigi itu sendiri, dampaknya juga memicu berbagai masalah pada gusi dan bahkan tulang rahang.

Karena anggapan yang keliru, kebiasaan-kebiasaan itu sering tidak disadari bahayanya. Mengunyah permen karet yang mengandung xylitol misalnya, selama ini dianggap baik untuk kesehatan mulut tetapi ternyata bisa memicu sakit rahang.

Ada juga beberapa kebiasaan buruk yang bahkan tidak pernah terpikir bahayanya. Misalnya ngemil malam hari, mengigit kuku maupun bernapas melalui mulut, meskipun sepele namun ternyata juga menyebabkan masalah yang tak kalah serius.

Berikut ini adalah 7 kebiasaan yang dapat memicu kerusakan gigi, dikutip dari AOL Health, Minggu (13/6/2010).

1. Ngemil di malam hari
Dibandingkan siang hari, produksi air liur berkurang pada malam hari. Karena salah satu fungsi air liur adalah membersihkan gigi dari sisa makanan, maka ngemil di malam hari bisa menyebabkan gigi mudah tanggal. Penelitian tentang hal ini pernah dipublikasikan dalam jurnal Eating Behaviour.

2. Minum anggur putih
Beberapa orang menghindari anggur merah karena langsung meninggalkan noda di gigi. Namun menurut presiden American Society of Dental Aesthetics yang juga penggagas SuperSmile, Irwin Smeigel, anggur putih justru menyebabkan masalah lain yang lebih permanen.

"Walau tidak menyebabkan noda, keasaman anggur putih lebih tinggi dan bisa merusak enamel gigi. Kerusakan itu berupa bintik-bintik kasar dan alur yang membuat gigi lebih rentan terhadap noda saat mengkonsumsi makanan atau minuman berwarna yang lain," ungkap Smeigel.

3. Bernapas melalui mulut
Kadang-kadang jika terengah-egah saat berolahraga atau bekerja keras, orang mulai bernapas melalui mulut. Hal ini menyebabkan air liur di rongga mulut berkurang. Padahal menurut dokter gigi asal Texas, Anna Dees, fungsi lain dari air liur adalah menjaga lapisan gigi agar tidak membusuk.

4. Berlebihan mengunyah permen karet
Mengunyah permen karet sebenarnya mempunyai manfaat, terutama jika permen karet itu mengandung xylitol. Bahan tersebut dapat membantu menjaga kesehatan langit-langit mulut.

Namun jika berlebihan, maka yang menderita adalah bagian temporomandibular atau sendi yang menghubungkan rahang dengan tulang tengkorak. Tekanan berlebih di bagian tersebut dapat menyebabkan sakit kepala, sakit leher, muka dan telinga.

5. Mengigit kuku
Tak hanya merusak kuku itu sendiri, kebiasaan buruk yang sering dilakukan anak-anak ini menyebabkan kerusakan serius di gigi dan gusi. Akar gigi mengalami perubahan bentuk kemudian memicu gingivitis (radang gusi), sekaligus meningkatkan risiko bruxism atau pergerakan gigi yang tidak dikehendaki seperti gemeretak saat tidur.

6. Minum jus dan soda langsung dari kaleng atau botolnya
Meneguk langsung dari botol atau kemasan memperbesar potensi kontak minuman dengan gigi. Kandungan gula dan asam yang tinggi dapat membuat gigi cepat membusuk. Risiko ini bisa dikurangi dengan meminum soda atau jus melalui pipa sedotan yang diposisikan mengarah ke mulut bagian belakang.

7. Menggosok gigi secara horisontal
Kerusakan yang terjadi saat menggosok gigi secara horisontal adalah terkikisnya lapisan enamel. Akibatnya gigi menjadi rapuh, mudah patah dan terserang infeksi. Kalangan dokter gigi umumnya menganjurkan cara menyikat gigi secara vertikal, dengan sikat lembut untuk menghindari kerusakan enamel.

Gangguan Mulut dan Gigi yang Bisa Diatasi Sendiri

gigi dalam

Gangguan ringan pada mulut dan gigi bisa diatasi sendiri tanpa harus pergi ke dokter, misalnya sariawan dan lidah terbakar. Bahkan gigi tanggal sekalipun bisa dipasang kembali jika mendapat pertolongan pertama dengan tepat.

Asalkan tahu caranya, setiap orang bisa menjadi dokter gigi untuk dirinya sendiri. Tetapi tentunya hanya untuk gangguan ringan saja, sedangkan untuk penanganan lebih lanjut ada baiknya tetap diserahkan kepada dokter gigi.

Berikut ini beberapa gangguan pada mulut dan gigi yang bisa diatasi sendiri, dikutip dari MensHealth, Jumat (21/5/2010).

Gigi sensitif
Pada akar gigi terdapat jutaan syaraf yang akan menjadi sangat sensitif ketika gusi rusak. Untuk mencegahnya, hindari pasta gigi dengan pemutih, baking soda dan pencegah plak. Bahan-bahan tersebut bersifat abrasif, dapat menyebabkan gusi mengalami resesi (turun).

Gigi tanggal
Pada orang dewasa, gigi permanen yang tanggal bisa dipasang kembali jika tidak terlambat membawanya ke dokter gigi. Sementara belum ada dokter, bersihkan gigi dengan air mengalir lalu kembalikan ke posisi semula di dalam rahang. Gigit kain lembut atau kantong teh celup yang telah dibasahi untuk menahannya di posisi tersebut. Jangan memegang akar gigi, pegang saja kepalanya.

Langit-langit mulut terbakar

Sensasi terbakar di langit-langit mulut terjadi jika terburu-buru menyantap makanan atau minuman panas. Meski tidak secara langsung mengganggu kesehatan gigi, kondisi ini semakin melunakkan jaringan di langit-langit mulut dan membuatnya rentan terhadap infeksi. Atasi dengan salep corticosteroid, misalnya Kenalog in Orabase.

Lidah terbakar
Sama seperti pada langit-langit, pemicunya adalah terburu-buru menyantap makanan atau minuman panas. Larutkan 1 sendok teh garam ke dalam secangkir air hangat, gunakan untuk berkumur. Larutan garam akan mencegah infeksi pada jaringan di lidah, dengan menetralisir kondisi keasaman akibat radang.

Sakit rahang
Umumnya disebabkan oleh gangguan pada sendi temporomandibular (TMD), yang menghubungkan rahang atas dengan rahang bawah. Gejalanya adalah rasa nyeri mulai dari depan telinga hingga ke rahang dan gigi. Ini dipicu oleh gerakan rahang yang saling menggertakkan gigi tanpa disadari saat tidur. Untuk mengatasinya, gunakan bantal yang nyaman untuk tidur.

Sariawan
Pemicunya sangat beragam, antara lain demam dan makanan yang terlalu pedas. Untuk mengatasinya, oleskan larutan borax glycerine (gom) yang dijual bebas dengan harga murah meriah di hampir semua apotek. Alternatifnya, oleskan minyak sayur dengan cotton bud sebanyak 3-4 kali/hari.

Gigi retak atau patah
Perubahan temperatur yang ekstrem dan mendadak bisa menyebabkan gigi rapuh, bahkan retak atau patah. Misalnya menyantap es krim yang diikuti dengan kopi panas. Bisa dicegah dengan menghindari makanan atau minuman yang terlalu panas maupun terlalu dingin, tetapi hanya bisa diatasi dengan penambalan oleh dokter gigi. Jika tidak ditambal, retakan atau patahan itu akan menjadi rawan infeksi.

Menyiasati Makanan Manis Agar Gigi Tidak Cepat Rusak

gigi

Agar giginya awet, biasanya orang akan membatasi konsumsi makanan manis. Padahal gigi rusak bukan ditentukan oleh banyaknya gula yang masuk, melainkan lamanya gula terlibat kontak dengan bakteri yang ada di mulut.

Karies atau kerusakan gigi akan terjadi saat bakteri yang ada di mulut mendapat makanan berupa gula sederhana. Oleh bakteri, gula-gula itu diubah menjadi asam yang akan merusak lapisan enamel dan menyebabkan gigi mengalami kerusakan.

Dikutip dari NY Times, Jumat (20/8/2010), bakteri butuh waktu kurang lebih 20 detik untuk mengubah gula menjadi asam. Bila tidak dibersihkan dengan cara berkumur, asam tersebut akan bertahan cukup lama di dalam mulut yakni sekitar 30 menit.

Saat mengkonsumsi makanan dan minuman manis, jelas tidak semua gula akan dimakan dan diubah menjadi asam oleh bakteri. Sebagian besar tentu saja akan langsung diteruskan ke kerongkongan sebelum para bakteri sempat mengubahnya menjadi asam.

Ini berarti dalam sekali suap atau sekali teguk, jumlah asam yang terbentuk sebanding dengan jumlah bakteri yang ada di mulut dan bukan sebanding dengan kadar gula dalam makanan atau minuman tersebut. Berapapun banyaknya gula yang masuk, jumlah asam yang dihasilkan akan sama asalkan disantap dalam waktu kurang dari 20 detik.

Sebaliknya meski jumlah gulanya lebih sedikit, asam yang terbentuk akan lebih banyak jika disantap berulang kali sedikit demi sedikit. Sebab cara ini akan memberi waktu bagi bakteri untuk mengubah gula menjadi asam dengan lebih efisien.

Sederhananya demikian, segelas kopi manis akan lebih merusak gigi jika dihabiskan dalam waktu beberapa jam dengan cara diseruput sedikit demi sedikit, dibandingkan dengan 2 atau 3 kali teguk berturut-turut selama beberapa menit saja.

"Faktor yang meningkatkan risiko kerusakan gigi bukan jumlah gula secara keseluruhan, melainkan pola Anda menyantapnya. Misalnya jika Anda selalu menyediakan kopi manis di meja untuk diseruput sepanjang hari," ungkap Dr Carole Palmer, seorang profesor kesehatan di Tufts University School of Dental Medicine.

Dengan alasan yang sama, beberapa dokter gigi tidak menganjurkan orang tua untuk terlalu sering menggunakan botol anti tumpah untuk memberi minuman manis pada anaknya. Botol yang didesain untuk sering diseruput melalui lubang kecil di tutupnya ini sering dikaitkan dengan kerusakan gigi pada anak-anak.

Menurut Dr Palmer, teori ini tidak hanya berlaku untuk gula tetapi juga segala sesuatu yang rasanya asam. Sebuah penelitian menunjukkan, permen asam jauh lebih membahayakan lapisan enamel gigi karena kandungan asamnya lebih tinggi dibandingkan permen manis.

Cara Kawat Gigi Beraksi

kawat gigi

Kawat gigi digunakan untuk membantu memperbaiki penampilan gigi yang berantakan. Alat ini bisa digunakan oleh anak-anak maupun orang dewasa. Bagaimana cara kerja kawat gigi ini?

Kawat gigi membantu gigi agar bisa tumbuh sesuai dengan tempatnya atau dalam posisi lurus serta memperbaiki posisi gigi yang kurang tepat.

Beberapa kawat gigi ada yang menggunakan kawat baja atau brackets, sedangkan yang lebih moderen lagi menggunakan perangkat yang bisa diubah dengan bahan plastik.

Kawat gigi bisa membantu mencegah tumbuhnya gigi di posisi yang salah. Gigi yang salah posisi dapat mempengaruhi gusi, karena nantinya gusi akan menjadi lemah sehingga gigi menjadi mudah copot.

Kawat gigi juga berguna untuk memperbaiki pengucapan seseorang yang terhambat karena kondisi gigi yang salah, mengurangi sakit pada rahang akibat kondisi gigi yang buruk serta untuk merapikan gigi.

Saat kunjungan pertama, dokter akan melakukan pemeriksaan X-ray untuk memeriksa dan mencari lokasi yang tepat dari gigi, struktur tulang dan bagaimana ruang yang ada antar gigi.

Nantinya kawat yang diberikan akan mendorong gigi ke arah yang sebenarnya. Karena kawat akan bertindak sebagai kompresor yang memberikan penekanan pada gigi sehingga terjadi resorpsi tulang.

Setelah kawat gigi direkatkan ke gigi, maka sistem kabel lengkungan dan karet akan memindahkan gigi ke posisinya. Hal ini terjadi sebagai peregangan lembut dan tekanan yang stabil dari membran periodontal pada satu sisi gigi dan menekan gigi yang lainnya.

Perubahan dalam membran periodontal menyebabkan gigi tidak menempel di posisinya. Namun kawat dan karet yang ada tetap memberikan tekanan pada gigi, sehingga tulang akan tumbuh untuk mendukung gigi ke posisi yang benar.

Seperti dikutip dari Livestrong, Kamis (29/7/2010) perubahan tekanan yang diberikan oleh kawat dan karet akan memberikan pengaruh terhadap osteoclast dan osteoblast yang berfungsi membentuk tulang pada gigi.

Ketika kabel yang melengkung dan karet yang memberikan tekanan bekerja pada gigi, maka akan mengendurkan membran periodontal dan memungkinkan osteoclast untuk memindahkan gigi di rahang.

Saat gigi sudah berada di posisi yang baru, maka osteoblast akan membangun tulang untuk menstabilkan gigi dan memastikan gigi berada di posisi yang benar.

Hal ini tidak hanya membuat gigi berada di tempat yang tepat, tapi juga membuat struktur tulang lebih padat serta merapikan gigi.

Terdapat beberapa alasan yang membuat seseorang harus menggunakan kawat gigi yaitu bentuk gigi bengkok, gangguan pernapasan, adanya ruang antar gigi, gigi yang tumbuhnya bertumpuk (overcrowding) dan juga overbite.

Untung Rugi Kesehatan dari Memutihkan Gigi

gigi putih

Senyum manis dengan gigi yang putih cemerlang tentunya menjadi idaman dari setiap orang. Untuk mendapatkan hal itu, banyak orang yang melakukan pemutihan gigi atau bleaching. Apa saja untung dan rugi kesehatan dari melakukan pemutihan gigi?

Bleaching gigi biasanya dilakukan untuk menghilangkan warna gigi yang kuning atau kusam akibat sisa-sisa makanan seperti kopi, coklat, rokok, obat atau ada juga yang warnanya berubah karena terjadi perubahan struktur di dalam gigi.

Dilansir dari Health24, Sabtu (17/7/2010), berikut beberapa keuntungan dan kerugian melakukan pemutihan gigi:

Keuntungan

  1. Gigi yang gelap atau kusam dari dibersihkan dalam waktu yang relatif singkat (dari 4-5 hari hingga 3 atau 4 minggu)

  2. Meningkatkan rasa kepercayaan diri dan efek psikologis yang ditimbulkannya

  3. Orang bisa mengontrol tingkat keputihan giginya


Kerugian

  1. Orang perlu memakai zat pemutih (bleaching trays) selama enam sampai delapan jam per hari untuk mendapatkan efek yang maksimal. Padahal bahan kimia yang digunakan untuk memutihkan gigi dapat mengubah persepsi rasa dan mengganggu pencernaan.

  2. Sering melakukan pemutihan gigi bisa mengakibatkan hipersensitif gigi

  3. Iritasi pada jaringan lunak

  4. Sakit tenggorokan

  5. Kesulitan untuk menggigit

  6. Bleaching gigi juga bisa bikin kecanduan atau ketagihan


Dan menurut drg Armasastra Bahar, PhD, anggota Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI), gigi yang berwarna gading sebenarnya lebih baik dibandingkan dengan gigi putih, karena gigi yang terlalu putih menunjukkan struktur yang kurang kuat

Gosok Gigi Saat Bangun Tidur Lebih Baik daripada Usai Sarapan

sikat

Kebiasaan menggosok gigi lebih tepat dilakukan saat bangun tidur daripada sesudah sarapan pagi. Tujuannya memang bukan untuk membersihkan sisa makanan melainkan mencegah terbentuknya plak atau karang gigi.

Sedangkan usai sarapan justru tidak disarankan untuk menyikat gigi langsung karena mulut dalam kondisi asam sehingga email mudah terkikis.

Menggosok gigi usai sarapan sebaiknya tunggu sampai 25 menit setelah makan, yang mana saat itu pH mulut sudah tidak terlalu asam. Namun jika buru-buru cukup dengan berkumur atau membersihkan dengan dental floss.

Cara menyikat gigi yang tidak tepat merupakan salah satu penyebab utama gigi sensitif di Idonesia. Selain cara menggosok yang terlalu kuat dan pemilihan sikat yang terlalu keras, waktu menggosok gigi juga sering tidak tepat.

Dalam media briefing 'Sensodyne Expert Sharing' di Aula Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, Senin (20/9/2010), drg Robert Lessang, Sp.Perio mencontohkan salah satu kebiasaan menggosok gigi yang tidak tepat.

Menurutnya, kebiasaan menggosok gigi lebih tepat untuk dilakukan saat bangun tidur daripada sesudah sarapan pagi. Tujuannya memang bukan untuk membersihkan sisa makanan melainkan mencegah terbentuknya plak atau karang gigi.

"Sesudah sarapan pagi, pH di mulut turun sehingga risiko terjadinya abrasi atau pengikisan di gigi lebih tinggi. Sebaiknya jangan langsung menyikat gigi setelah makan, beri waktu setidaknya 25 menit," ungkap drg Robert.

Abrasi atau pengikisan gigi menyebabkan lapisan terluar gigi yakni enamel menipis, sehingga lapisan di bawahnya yakni dentin menjadi terbuka. Lapisan dentin ini langsung terhubung dengan syaraf sehingga sangat sensitif jika tidak terlindungi.

Bahkan jika terburu-buru, sisa makanan di gigi cukup dibersihkan dengan dental floss atau berkumur setelah sarapan. Asalkan saat bangun tidur sudah menggosok gigi, maka plak baru mulai terbentuk lagi 4-8 jam sesudahnya.

Meski demikian, gosok gigi secara teratur tetap harus dilakukan secara rutin untuk menjaga kebersihan mulut dan gigi. Drg Robert menganjurkan untuk menggosok gigi sedikitnya 3 kali dalam sehari.

Pertanyaan Wajib Saat ke Dokter Gigi

dokter gigi

Ketika datang ke dokter gigi, orang berharap dokter memberikan informasi yang lengkap mengenai kondisi giginya. Tapi tidak semua hal diungkapkan oleh dokter gigi, sehingga pasien harus berani menanyakannya.

Dr Edward Romano, dokter gigi kosmetik di New Jersey mengatakan hal-hal yang tidak diungkapkan oleh dokter gigi pada pasiennya mungkin akan mengejutkan si pasien. Karenanya pasien harus cermat memberikan pertanyaan mengenai kesehatan gigi dan mulut pada dokternya.

Seperti dikutip dari Sheknows, Kamis (21/10/2010) ada beberapa pertanyaan yang sebaiknya ditanyakan pasien pada dokter giginya.

Pertanyaan yang paling penting adalah:

1. Menanyakan tentang bagaimana kondisi gusinya.
Hal ini karena sesuatu yang terjadi pada gusi seperti penumpukan plak pada arteri bisa menyebabkan sakit jantung.

Selain itu jika kondisi gusi buruk akan membuat tulang tidak optimal mempertahankan gigi yang nantinya bisa berujung pada kehilangan gigi. Plak bakteri bisa tumbuh selama 24 jam di dalam gusi dan dalam jumlah besar dapat menimbulkan masalah.

Selama ini kebanyakan orang hanya menghabiskan waktu sekitar 30 detik untuk menyikat gigi, sehingga tidak semua plak terangkat. Dokter biasanya akan menyarankan tiga kali sikat gigi da juga menggunakan benang gigi sebelum tidur.

2. Menanyakan dokter apakah sudah memeriksakan gejala kanker mulut atau tidak.
Hal ini karena kanker mulut merupakan salah satu kondisi yang ganas dan fatal. Namun jika berhasil dideteksi secara dini bisa meringankan rasa sakit, mengurangi kerusakan dan dapat menyelamatkan nyawanya.

3. Menanyakan bagaimana cara menjaga gusi dan mulut tetap sehat.
Hal ini karena kesehatan mulut dan gigi berhubungan dengnan saraf yang berkaitan dengan organ lain di dalam tubuh, sehingga kondisi gusi dan gigi ini tidak bisa dianggap sepele.

Beberapa orang kadang merasa gugup atau takut ketika pergi ke dokter gigi yang bisa membuatnya menjadi sulit berbicara dan lupa dengan apa yang ingin diucapkannya. Karena itu tak ada salahnya untuk mencatat beberapa pertanyaan yang memang ingin ditanyakan.

Makanan yang Aman untuk Gigi

gigi

Gigi sehat ibarat mutiara yang mahal harganya sehingga harus dijaga agar tidak rusak. Tidak selalu harus dengan perawatan yang mahal, pemilihan makanan yang tepat sudah bisa membantu merawat kesehatan gigi.

Karena fungsinya untuk mengunyah makanan, gigi selalu bersentuhan dengan berbagai jenis makanan. Beberapa di antaranya bersifat korosif alias merusak, sehingga harus pintar-pintar memilih agar gigi tetap kuat sampat tua.

Dikutip dari WebMD, Rabu (20/10/2010) makanan dan minuman yang baik dan aman bagi kesehatan gigi di antaranya adalah sebagai berikut:

Air putih
Noda di gigi bisa muncul akibat meningkatnya keasaman rongga mulut saat mengunyah makanan. Minum air putih berguna untuk mempercepat pembersihan sisa-sisa asam sehingga tidak mengotori gigi.

Permen karet bebas gula
Mengunyah permen karet dapat meningkatkan produksi saliva atau air liur, sehingga dapat menetralisir keasaman rongga mulut. Produksi air liur yang meningkat juga dapat membantu pembersihan sisa-sisa makanan.

Buah-buahan beraroma sitrus
Meski rasanya asam, jeruk dan sebangsanya dapat meningkatkan produksi air liur sekaligus melindungi lapisan enamel. Selain itu, jeruk mengandung banyak air sehingga dapat menyingkirkan bakteri-bakteri penghasil asam.

Keju dan susu
Kandungan protein, kalsium dan fosfor dalam susu atau keju dapat mencegah erosi atau pengikisan lapisan enamel di permukaan gigi. Selain menguarkan, susu dan keju juga meningkatkan produksi air liur sehingga bisa menetralisir keasaman rongga mulut.

Ikan
Asam lemak omega-3 yang banyak terkandung pada ikan merupakan salah satu antioksidan yang bisa mengurangi risiko infeksi pada gusi. Gusi yang sehat akan mencegah kerusakan pada akar gigi yang tertanam di rahang.

Cokelat
Meski mengandung gula, cokelat tidak banyak meningkatkan risiko gigi berlubang dan membusuk karena kandungan antioksidannya lebih banyak. Cokelat hitam lebih baik untuk menjaga kesehatan gigi sebab kandungan gulanya lebih sedikit dibandingkan jenis cokelat lainnya.

Memutihkan Gigi dengan Buah-buahan

stroberi

Banyak orang mencoba memutihkan gigi dengan cara bleaching atau menggunakan pasta gigi yang mengandung pemutih. Sayangnya, tidak semua orang suka melakukan cara tersebut. Buah-buahan tertentu sebenarnya juga bisa membantu memutihkan gigi. Apa saja?

Memiliki gigi putih dan senyum menawan tentunya membuat seseorang tampak lebih menarik. Tapi kebiasaan minum kopi, teh atau cola bisa meninggalkan noda di gigi Anda.

Dilansir Livestrong, Selasa (9/11/2010), berikut beberapa buah-buahan yang dapat membuat gigi putih dan sehat:

1. Stroberi
Stroberi adalah salah satu makanan yang alami dapat memutihkan gigi. Asam malat yang terkandung dalam stroberi bertindak sebagai zat yang akan mengikis dan menghilangkan beberapa noda pada permukaan gigi.

Stroberi yang dicampur dengan setengah sendok teh baking soda bisa bertindak sebagai pemutih gigi. Oleskan campuran tersebut ke seluruh permukaan gigi selama 5 menit untuk mendapatkan hasil yang memuaskan.

Namun, metode ini tidak boleh dilakukan dalam waktu yang lama karena bisa asam pada stroberi dapat menghancurkan enamel gigi dari waktu ke waktu.

2. Apel
Apel mengandung dua kualitas yang membantu dalam pemutihan gigi. Pertama, proses mengunyah buah apel yang keras dan renyah bisa melunturkan plak gigi yang dapat mengubah warna gigi. Selain itu, mengunyah juga merangsang produksi air liur yang secara alami dapat melawan bakteri dalam mulut yang merubah warna gigi.

Kedua, apel juga mengandung asam malat yang bertindak sebagai bahan alami untuk 'mengendurkan' dan menghilangkan noda pada permukaan gigi.

3. Wortel

Wortel juga dapat berfungsi sebagai pemutih gigi alami. Seperti apel, wortel adalah makanan yang dapat melunturkan plak gigi yang keras selama proses mengunyah.

4. Lemon atau jeruk nipis

Jus lemon juga dapat digunakan untuk memutihkan gigi. Jus lemon dapat dikombinasikan dengan garam atau soda kue untuk membuat pasta, yang kemudian menggosok gigi selama beberapa menit.

Tapi karena jus lemon mengandung asam sitrat yang dapat menyebabkan korosi dari enamel gigi, selalu bilas dan sikat gigi dengan baik setelah menggunakan jus lemon pada gigi.

Stres Bisa Merusak Gigi dan Gusi

gigi lubang

Selama ini stres dan ketegangan diketahui dapat membahayakan kesehatan jantung dan sering menyebabkan sakit kepala. Tapi penemuan terbaru menunjukkan bahwa stres juga dapat merusak gigi dan gusi.

Para ahli mengatakan stres dapat ditandai juga dengan gangguan pada mulut, gusi dan gigi. Beberapa orang yang menderita stres juga sering mengalami luka di mulut (sariawan), mengertakkan gigi saat tidur atau mengalami penyakit gusi lainnya.

"Penyakit gigi dan gusi dapat menyebabkan hilangnya tulang pada rahang dan mengakibatkan kerusakan gigi. Oleh karena itu, penting untuk mengatasi stres dengan cara sehat agar juga membuat gigi tetap sehat," jelas Dr Rajeev Sharma, dokter gigi di Mohali, dilansir Medindia, Selasa (4/1/2011).

Menurut Dr Sharma, mengertakkan gigi atau dalam istilah medis disebut bruxism, bisa menjadi salah satu gejala orang mengalami stres. Hal ini dapat menyebabkan gigi patah, rahang kelelahan dan sakit kepala.

Ditambah lagi, saat stres orang sering lupa menyikat atau flossing gigi. Hal ini menyebabkan kebersihan mulut semakin buruk.

Cara ideal untuk melawan stres adalah dengan teknik relaksasi seperti meditasi dan memperbaiki suasana hati (mood), yang dapat membantu menyegarkan tubuh.

Hal ini akan membuat tubuh lebih berenergi dan tentunya juga menjaga kebersihan dan kesehatan mulut.

Selain itu, sangat penting untuk menyikat gigi dua kali sehari, mengunjungi dokter gigi secara teratur untuk pemeriksaan rutin, serta konsumsi makanan sehat adalah suatu keharusan untuk meningkatkan kesehatan gigi.

Herbal untuk Obati Gigi Sensitif

gigi

Gigi sering terasa ngilu bisa pertanda Anda mengalami gigi sensitif. Hal ini tidak boleh diabaikan, gigi sensitif bisa menyebabkan gigi meradang, tak bisa dipulihkan dan akhirnya kematian gigi. Beberapa tanaman herbal dapat membantu mengatasinya.

Gigi sensitif merupakan istilah umum yang dipakai untuk menunjukkan adanya dentine hypersensitive (DH) yaitu terbukanya dentin akibat menipisnya email dan atau turunnya gusi.

Berbagai tumbuhan dapat berguna untuk gigi dan gusi. Herbal dapat membunuh atau menghambat bakteri berbahaya di dalam mulut yang menyebabkan plak terbentuk pada gigi dan mengarah pada perkembangan penyakit gusi, termasuk gigi sensitif.

Dilansir Livestrong, Rabu (22/12/2010), berikut beberapa herbal yang dapat membantu mengurangi gigi sensitif:

1. Teh hijau
Teh hijau dapat membantu mencegah kerusakan gigi dan radang gusi. Teh hijau mengandung senyawa yang dapat membantu menekan bakteri berbahaya di dalam mulut yang bertanggung jawab untuk pembentukan plak, yang menyebabkan kerusakan gigi, serta penyakit gusi atau radang gusi.

Teh hijau juga mengandung antioksidan yang dapat melindungi sel-sel dan jaringan mulut dari kerusakan akibat radikal bebas dan vitamin C yang melindungi gusi.

Berkumurkan dengan teh hijau menjelang tidur untuk mengurangi plak dan bakteri.

2. Nimba
Nimba adalah ramuan Ayurvedic antimikroba yang dapat memerangi plak gigi dan penyakit periodontal bila diterapkan pada gigi dan gusi. Menurut PeaceHealth.org, penggunaan 1 gr ekstrak daun nimba 2 kali per hari adalah pengobatan yang efektif untuk mencegah dan mengobati penyakit gigi dan gusi, yang juga menghilangkan sumber sensitivitas gigi.

3. Echinacea dan chamomile
Echinacea dan chamomile menawarkan anti-inflamasi dan antimikroba yang dapat membantu untuk mengobati radang gusi, serta gigi sensitif.

Percobaan klinis menemukan bahwa menggunakan obat kumur yang mengandung echinacea, mur, chamomile, sage, mint dan ratania lebih efektif daripada obat kumur komersial untuk mengurangi peradangan pada gusi karena gingivitis, serta membantu mengurangi sensitivitas gigi.

Nutrisi Tepat untuk Gigi Kuat

gigi

Selain perawatan yang tepat, gigi juga memerlukan beberapa nutrisi berupa vitamin penting agar membuatnya tetap sehat dan kuat. Nutrisi penting ini bisa diperoleh dari makanan dan suplemen. Apa saja?

Kebersihan gigi merupakan hal yang terpenting untuk menjaga kesehatan gigi dan gusi. Tapi tak hanya itu, nutrisi yang tepat juga diperlukan untuk mencegah timbulnya penyakit pada gigi dan gusi.

Makanan buah-buahan dan sayuran serta menghindari konsumsi karbohidrat olahan, kafein dan gula berlebih merupakan cara tepat untuk mencegah kerusakan gigi dan gusi.

Dilansir Livestrong, Kamis (25/11/2010), berikut beberapa nutrisi tepat untuk menjaga kesehatan gigi dan gusi:

Vitamin D
Tubuh memerlukan vitamin D untuk memelihara gigi tetap kuat, serta tahan terhadap penyakit gigi dan tulang. Vitamin D banyak terdapat pada ikan sarden, salmon dan susu. Kulit manusia juga dapat menyerap vitamin D dari sinar matahari.

Orang usia lanjut biasanya memerlukan vitamin D lebih banyak, terutama yang berusia 50 tahun ke atas. Selain mencegah kehilangan gigi, vitamin D juga dibutuhkan untuk mencegah pengeroposan tulang.

Vitamin C
Vitamin C penting untuk menjaga kesehatan jaringan ikat atau kolagen dalam gusi. Orang yang kekurangan vitamin C biasanya sering mengalami gusi bengkak dan berdarah, serta gigi mudah tanggal.

Vitamin C sangat penting dan merupakan salah satu bentuk yang paling dapat diandalkan untuk mencegah peradangan gusi. Bioflavonoid yang merupakan pigmen alami dalam buah-buahan dan sayuran, juga membantu mencegah pembentukan plak di sekitar gigi yang dapat menyebabkan noda dan gigi berlubang.

Vitamin C banyak pada buah-buahan segar dan sayuran terutama sayuran hijau, seperti brokoli, kiwi, buah jeruk, paprika, kentang dan tomat.

Beta-karoten
Tubuh mengubah beta-karoten menjadi vitamin A, dan vitamin A penting untuk pertumbuhan tulang. Vitamin A juga diperlukan untuk perkembangan gigi dan enamel gigi sehat. Anda dapat dengan mudah mengenali makanan yang kaya akan beta-karoten dari warnanya yang kebanyakan oranye.

Makanan tinggi beta-karoten misalnya ubi, wortel, labu dan melon kuning (cantaloupe). Sayuran berdaun hijau seperti bayam juga tinggi beta-karoten.

Sikat Gigilah dengan Gaya Merah-Putih Bukan Kiri-Kanan

sikat gigi

Semua orang tentunya bisa sikat gigi, tapi belum tentu paham menyikat gigi yang benar. Kebanyakan orang menyikat gigi dengan keliru dengan gerakan kiri-kanan padahal yang benar adalah gerakan merah-putih.

Gerakan menyikat kiri-kanan tidak bisa menghilangkan sisa-sisa makanan yang tertinggal disela-sela gigi. Sebaliknya gaya merah-putih paling tepat membersihkan kotoran.

Gaya merah-putih adalah menyikat gigi dari gusi ke gigi jadi gerakan atas bawah. Dengan gerakan merah-putih sisa makanan yang tertinggal di antara celah-celah gigi bisa dikeluarkan.

Menyikat gigi berguna untuk membersihkan gigi dan mulut dari berbagai bakteri atau sisa-sisa makanan. Karena ada sekitar 300 jenis bakteri hidup di dalam mulut manusia.

Itulah sebabnya mengapa pentingnya untuk belajar menyikat gigi yang benar. Menyikat gigi yang benar dapat membantu menjaga mulut tetap bersih dan sehat.

Cara menyikat gigi yang benar seperti dilansir dari dental.org, Kamis (30/12/2010) adalah:

  1. Mulailah dengan menyikat gigi yang digunakan untuk mengunyah untuk menghilangkan sisa-sisa makanan

  2. Sikat gigi dimiringkan dan disikat memutar dengan sudut sedikat 45 derajat

  3. Hilangkan kebiasaan buruk menyikat gigi dengan gerakan kiri-kanan. Gerakan yang benar adalah 'merah-putih', yaitu dari gusi ke gigi.

  4. Sikat gigi dengan lembut untuk membantu mengurangi plak dan merangsang gusi. Lakukan pijatan gusi untuk memperlancar peredaran darah.

  5. Pindahkan sikat gigi ke posisi vertikal dan fokus dan gigi depan atas dan bawah dalam. Ini adalah bagian gigi tempat plak sering terakumulasi.

  6. Bersihkan gigi pada seluruh permukaan gigi sampai ke celah-celah gigi dan saku gusi

  7. Buka mulut Anda lebar-lebar dan sikat juga permukaan lidah, bagian dalam pipi dan lagit-langit mulut. Ini merupakan langkah penting dalam menyikat gigi yang benar, karena kotoran bisa menjadi 80 persen penyebab bau mulut.

  8. Bila dirasa kurang bersih, bisa diulangi cara-cara di atas.

  9. Setelah selesai, bilas mulut dan sikat gigi dengan air bersih. Dan rendam sikat gigi beberapa menit di dalam air panas untuk membunuh bakteri mulut yang mungkin tertinggal di sikat gigi.


Selain cara menyikat gigi yang benar, ada pula hal-hal yang sebaiknya diperhatikan dalam menyikat gigi, antara lain:

  1. Sikat gigi 2 kali sehari bisa menghindari Anda dari berbagai macam penyakit. Tidak hanya penyakit gusi dan mulut, tetapi juga penyakit serius seperti jantung.

  2. Sikat gigi diwaktu yang tepat, yaitu kurang lebih 20 menit setelah makan.

  3. Gunakan sikat gigi dengan bulu sikat yang lembut dengan kepala sikat sesuai dengan ukuran mulut.

  4. Hindari penggunaan sikat gigi yang bulu sikatnya sudah rusak

  5. Jangan menaruh sikat gigi dekat dengan toilet karena bakteri dari toilet bisa menempel di sikat.

Yang Perlu Dilakukan Usai Cabut Gigi

dokter gigi

Sebagain besar orang menganggap cabut gigi sebagai peristiwa horor karena rasa nyeri dan pencabutan yang bikin merinding. Agar cabut gigi tidak jadi mimpi buruk, lakukan hal-hal berikut usai Anda cabut gigi.

Cabut gigi harus dilakukan seksama oleh dokter gigi atau dokter bedah mulut karena operasi kecil ini berisiko tinggi mengalami komplikasi.

Maka itu dokter biasanya tidak mau mencabut gigi pasien jika seseorang memiliki infeksi. Dokter akan memberikan antibiotik terlebih dahulu untuk membantu menyembuhkan infeksi.

Sebelum mencabut gigi, dokter akan memberikan anestesi (bius) lokal di daerah gigi yang akan dicabut untuk mematikan rasa. Anestesi ini akan mencegah nyeri di seluruh tubuh, dokter mungkin akan merekomendasikan untuk tidak mengonsumsi makanan atau minuman tertentu agar tidak bereaksi dengan obat anestesi.

Setelah gigi dicabut pasien biasanya mengalami perdarahan dan pembengkakan sekitar 24-48 jam pertama setelah pencabutan gigi. Namun kondisi ini bisa diatasi dengan beberapa pengobatan yang sederhana.

Beberapa cara sederhana bisa dilakukan usai cabut gigi untuk bisa membantu mengontrol dan mengobati pembengkakan yang timbul. Jika bengkak dan nyeri tidak berkurang atau memburuk setelah lebih dari dua hari sebaiknya konsultasikan dengan dokter.

Cara mudah mengatasi bengkak setelah cabut gigi seperti dikutip dari Livestrong, Senin (7/2/2011) yaitu:

1. Tempatkan kasa lembab di atas luka untuk mengendalikan perdarahan setelah gigi dicabut, ganti kasa setiap 30 menit sekali atau sesuai dengan jadwal yang direkomendasikan dokter.

2. Letakkan kantong es disisi luar wajah dari tempat gigi yang dicabut. Biarkan kantong es selama 10-20 menit lalu angkat dan biarkan selama 10-20 menit. Ulangi terus menerus selama 12-24 jam pertama setelah gigi dicabut.

3. Letakkan kepala dengan posisi lebih tinggi dari badan selama 12-24 jam pertama setelah cabut gigi, jika memungkinkan hal ini juga dilakukan saat tidur.

4. Letakkan kompres hangat pada daerah yang bengkak 36 jam setelah gigi dicabut.

Selain itu ada beberapa hal yang dilakukan setelah cabut gigi agar tidak memperparah kondisi yaitu:

  1. Jangan ganggu atau memegang luka yang ada, jauhkan jari dan ludah dari tempat gigi dicabut.

  2. Hindari merokok selama 72 jam setelah cabut gigi dan membuang ingus dengan keras, karena bisa menghambat proses pembekuan dan penyembuhan menjadi lebih lambat sehingga lebih bengkak.

  3. Mengonsumsi cairan dan makanan lunak setelah cabut gigi hingga 24-48 jam cabut gigi, misalnya makan puding, yogurt, kentang tumbuk, bubur dan sup.

  4. Hindari konsumsi alkohol selama minimal 48 jam setelah cabut gigi.

Mengatasi Gusi yang Sering Berdarah

gusi

Gusi berdarah sering diabaikan dan dianggap remeh oleh sebagian orang, padahal gusi yang sering berdarah bisa menyebabkan penyakit yang lebih serius. Segera atasi dan obati gusi yang berdarah.

Gusi berdarah biasanya disebabkan karena penghapusan plak gigi yang tidak benar pada garis gusi. Hal ini bisa menyebabkan gingivitis atau gusi meradang.

Jika plak tidak dihilangkan secara teratur atau dengan menyikat gigi, maka akan mengeras menjadi karang gigi, yang pada akhirnya dapat mengakibatkan pendarahan atau bahkan lebih parah lagi menyebabkan penyakit rahang dan gusi yang dikenal sebagai periodontitis.

Dilansir Nlm.nih.gov, Rabu (15/12/2010), berikut beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi gusi berdarah:

  1. Hindari penggunaan tembakau dan merokok yang dapat memperburuk gusi berdarah

  2. Kontrol perdarahan gusi dengan memberi tekanan langsung pada gusi dengan kain kasa yang direndam dalam air es

  3. Jika Anda telah didiagnosa kekurangan vitamin, maka segeralah cukupi kebutuhan vitamin.

  4. Batasi asupan gula. Kelebihan gula dalam makanan ringan, soda manis atau makanan olahan dapat menyebabkan kerusakan gigi dan memperparah pendarahan.

  5. Hindari obat pengecer darah seperti aspirin, kecuali dokter Anda merekomendasikannya.

  6. Makan banyak buah yang mengandung vitamin C dan juga makanan yang mengandung banyak kalsium. Kalsium dapat membantu dalam memperbaiki kerusakan gigi yang berkelanjutan karena cedera gusi.


Selain karang gigi, ada beberapa penyebab lain gusi berdarah antara lain:

  1. Infeksi bakteri, jamur atau virus.

  2. Adanya gangguang pendarahan lain

  3. Menyikat gigi terlalu keras

  4. Perubahan hormon selama kehamilan

  5. Idiopathic thrombocytopenic purpura (ITP), yaitu penyakit darah yang tak cukup memiliki sel darah merah.

  6. Pemasangan gigi palsu yang tidak pas

  7. Flossing yang tidak sesuai

  8. Infeksi yang terjadi karena pada gigi dan gusi

  9. Leukemia

  10. Penggunaan pengencer darah

  11. Kekurangan vitamin K


Untuk menghindari gusi berdarah, sebaiknya mengunjungi dokter minimal 6 bulan sekali untuk menghilangkan plak, mengikat gigi dengan lembut dengan bulu sikat yang halus sehabis makan dan hindari penggunaan obat pencuci mulut yang mengandung alkohol karena dapat memperburuk masalah.

Gusi Sering Berdarah Bisa Jadi Tanda Awal Kanker Gusi

gusi

Banyak orang yang meremehkan kesehatan gigi. Tapi sebaiknya jangan abaikan gusi yang sering berdarah dan luka pada gusi yang tidak kunjung sembuh, karena hal tersebut bisa jadi tanda kanker gusi.

"Kanker gusi termasuk dalam kanker rongga mulut. Biasanya terjadi akibat luka jaringan di rongga mulut, bisa di lidah dan gusi," jelas Prof Dr Melanie S Djamil, drg., MBiomed, dokter gigi dan dosen Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti, saat dihubungi detikHealth, Rabu (16/2/2011).

Menurut Prof Melanie, kanker gusi biasanya terjadi karena adanya rangsangan di gusi yang sering diabaikan, seperti karang gusi atau gusi meradang, sehingga menyebabkan radang yang serius dan menyebabkan tumbuhnya sel kanker.

Prof Melanie menjelaskan beberapa gejala awal kanker gusi, yaitu sebagai berikut:

  1. Gusi sering berdarah tapi diabaikan

  2. Ulcus atau luka di gusi yang tidak sembuh-sembuh

  3. Gusi meradang sampai bengkak, tulang habis, gigi goyang hingga gigi copot dengan sendirinya.


Tapi menurut Prof Melanie, kanker di gusi biasanya muncul karena dipicu oleh kebiasaan hidup yang tidak sehat, yaitu mengunyah tembakau, merokok dan juga minum alkohol.

"Biasanya alkohol diketahui dapat menyebabkan kanker hati. Tapi dari penelitian di Australia, alkohol yang dicerna jadi asetaldehid juga dapat menjadi trigger (pemicu) kanker rongga mulut di sekitar gusi dan lidah," jelas Prof Melanie.

Prof Melanie mengatakan, kejadian kanker gusi banyak terjadi di daerah yang kebanyakan masyarakatnya masih memiliki budaya nyusur atau mengunyah tembakau (bukan nyirih atau mengunyah sirih).

Saat nyusur, tembakau tidak digunakan sendirian melainkan ada campurannya. Di antaranya adalah endapan kapur (Jawa: njet), buah pinang dan daun gambir.

"Bahan-bahan yang dipakai buat nyusur ini membuat sel-sel tubuh tidak berkembang sebagaimana mestinya, terutama tembakau, sehingga dapat memicu sel kanker," jelas Prof Melanie.

Selain itu, Prof Melanie menjelaskan biasanya pasien kanker gusi juga sudah memiliki onkogen (gen yang berpotensi menyebabkan karsinoma atau kanker). Dan kebiasaan buruk seperti merokok, nyusur tembakau (smokeless atau chewing tobacco), dan minum alkohol dapat memicu perkembangbiakan sel kanker tersebut.

Bila dideteksi pada stadium dini, peluang kesembuhan kanker gusi masih besar. Namun bila terlambat, sel kanker yang ada di gusi bisa mengalami metafase ke bagian tubuh lain, seperti ke jaringan lomfoid atau kelenjar getah bening.

Oleh karena itu, selalu waspadai gejala-gejala awal kanker gusi dan tetap hidup sehat dengan menjauhkan tembakau dan alkohol dari kehidupan Anda.