Jumat, 20 Mei 2011

Karyawan Paling Banyak Bolos Sakit pada Hari Senin

sakit

Hari Senin selalu menjadi hari paling sibuk bagi karyawan sehabis menikmati libur di akhir pekan. Tak heran jika 1 dari 3 karyawan di Eropa pernah bolos kerja pada hari Senin dengan alasan sakit, baik cedera fisik maupun sekedar stres.

Sebuah survei dari lembaga konsultan internasional Mercer mengungkap, 35 persen ketidakhadiran karyawan dengan alasan sakit terjadi di awal pekan yakni hari Senin. Angkanya makin berkurang di tengah pekan dan yang paling rendah adalah hari Jumat yakni 3 persen.

Penyakit yang jadi alasan untuk bolos bermacam-macam, namun yang paling banyak adalah masalah muskoskeletal (berhubungan dengan tulang dan otot) yakni sebanyak 24 persen. Yang termasuk dalam kategori ini antara lain terkilir, nyeri pinggang hingga patah tulang.

Penyakit lain yang juga banyak dipakai untuk bolos kerja di hari Senin adalah masalah-masalah yang berhubungan dengan infeksi virus, misalnya batuk dan pilek. Masalah ini menempati urutan kedua setelah muskoskeletal dengan tingkat ketidakhadiran 17 persen.

Alasan lain yang sering dipakai untuk bolos kerja di awal pekan adalah masalah gastointestinal, termasuk diare dan keracunan makanan yang jumlahnya 12 persen. Gejala stres seperti depresi dan letih pikiran menempati urutan berikutnya dengan 4 persen.

Meski sangat sedikit, ada juga karyawan yang bolos kerja di hari Senin dengan alasan terkena kanker. Karyawan yang bolos dengan alasan terserang penyakit mematikan tersebut hanya sekitar 2 persen, namun biasanya mengharuskan si karyawan untuk bolos lebih lama.

Bila dibandingkan berdasarkan jenis kelamin, bolos di hari Senin dengan alasan sakit 24 persen lebih banyak dilakukan karyawan perempuan daripada laki-laki. Dikutip dari Mercer, Senin (28/3/2011), jenis penyakit yang paling sering jadi alasan juga berbeda antara karyawan laki-laki dan perempuan.

Dibandingkan karyawan laki-laki, karyawan perempuan 2 kali lebih banyak memakai alasan yang berhubungan dengan stres misalnya depresi. Sebalinya, karyawan laki-laki 2 kali lebih sering menggunakan alasan yang berhubungan dengan muskoskeletal misalnya terkilir atau patah tulang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar